
Kenapa Rambut rontok merupakan hal yang normal karena rambut memang mengalami siklus pertumbuhan, istirahat, dan kerontokan. Namun, jika jumlah rambut yang rontok jauh lebih banyak dari biasanya, rambut terlihat semakin tipis, atau muncul bagian kepala yang mulai botak, kondisi tersebut perlu diperhatikan.
Rambut rontok dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari stres, perubahan hormon, kekurangan nutrisi, penggunaan obat tertentu, hingga masalah pada kulit kepala. Berikut beberapa penyebab rambut rontok yang paling umum.
1. Stres Fisik atau Emosional
Stres berat dapat memengaruhi siklus pertumbuhan rambut. Setelah mengalami stres fisik atau emosional yang cukup besar, sebagian rambut dapat masuk ke fase istirahat dan kemudian mengalami kerontokan beberapa waktu setelahnya.
Kondisi ini dikenal sebagai telogen effluvium. Kerontokan biasanya bersifat menyeluruh sehingga rambut terlihat lebih banyak rontok ketika keramas atau menyisir.
Selain stres psikologis, stres pada tubuh juga dapat terjadi setelah demam tinggi, sakit berat, operasi, atau perubahan tubuh tertentu.
2. Kekurangan Zat Besi
Zat besi dibutuhkan tubuh untuk berbagai fungsi, termasuk membantu pembentukan hemoglobin. Kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia dan pada sebagian orang dapat berkaitan dengan kerontokan rambut.
Risikonya dapat meningkat pada orang yang mengalami perdarahan menstruasi berat, asupan zat besi yang rendah, atau kondisi tertentu yang menyebabkan kehilangan darah.
Jika rambut rontok disertai mudah lelah, pucat, pusing, atau lemas, pemeriksaan darah dapat membantu mengetahui apakah terdapat anemia atau kekurangan zat besi.
3. Perubahan Hormon
Perubahan hormon dapat memengaruhi pertumbuhan rambut. Kerontokan dapat terjadi setelah kehamilan, saat menopause, atau pada kondisi tertentu yang berkaitan dengan hormon.
Pada sebagian wanita, perubahan hormon setelah melahirkan dapat menyebabkan rambut rontok lebih banyak dari biasanya. Kondisi tersebut umumnya bersifat sementara dan rambut dapat kembali tumbuh secara bertahap.
4. Faktor Keturunan
Faktor genetik merupakan salah satu penyebab kerontokan rambut yang paling umum. Kondisi ini dikenal sebagai androgenetic alopecia atau kerontokan rambut pola pria dan wanita.
Pada pria, kerontokan sering terlihat sebagai garis rambut yang semakin mundur atau penipisan di bagian atas kepala. Pada wanita, rambut biasanya menipis terutama di area bagian atas kepala.
Kerontokan akibat faktor genetik dapat berkembang secara perlahan dan semakin terlihat seiring bertambahnya usia.
5. Gangguan pada Kelenjar Tiroid
Kelenjar tiroid menghasilkan hormon yang berperan dalam mengatur berbagai fungsi tubuh. Gangguan tiroid, baik hormon terlalu rendah maupun terlalu tinggi, dapat memengaruhi siklus pertumbuhan rambut.
Selain rambut rontok, gangguan tiroid dapat disertai gejala seperti perubahan berat badan, mudah lelah, perubahan suhu tubuh, jantung berdebar, atau perubahan suasana hati.
Jika terdapat beberapa gejala tersebut secara bersamaan, pemeriksaan medis dapat membantu mengetahui penyebabnya.
6. Kekurangan Nutrisi
Rambut membutuhkan berbagai nutrisi untuk tumbuh dengan baik. Kekurangan protein, zat besi, zinc, vitamin B12, folat, atau nutrisi tertentu lainnya dapat berkaitan dengan kerontokan pada kondisi tertentu.
Diet yang terlalu ketat atau penurunan berat badan secara cepat dapat meningkatkan risiko kekurangan nutrisi.
Karena itu, hindari pola diet ekstrem dan pastikan makanan sehari-hari mengandung sumber protein, sayuran, buah, biji-bijian, serta sumber mineral dan vitamin yang beragam.
7. Perawatan Rambut yang Berlebihan
Penggunaan alat pemanas, pewarna rambut, bleaching, pelurusan, atau pengeritingan secara berlebihan dapat membuat batang rambut rusak dan mudah patah.
Kerusakan batang rambut berbeda dengan kerontokan dari akar. Namun, keduanya dapat membuat rambut terlihat semakin tipis.
Untuk mengurangi risiko kerusakan, batasi penggunaan alat panas, hindari proses kimia yang terlalu sering, dan gunakan produk perawatan rambut sesuai kebutuhan.
8. Sering Mengikat Rambut Terlalu Kencang
Mengikat rambut terlalu kencang secara terus-menerus dapat memberikan tarikan pada akar rambut. Kondisi ini dikenal sebagai traction alopecia.
Jika kebiasaan tersebut berlangsung lama, kerontokan dapat menjadi lebih serius dan pada kondisi tertentu menyebabkan kerusakan permanen pada folikel rambut.
Gunakan ikatan rambut yang tidak terlalu kencang dan berikan waktu bagi rambut untuk terurai.
9. Penyakit atau Gangguan pada Kulit Kepala
Masalah seperti infeksi jamur, peradangan, dermatitis, atau kondisi kulit tertentu dapat menyebabkan rambut rontok.
Jika kerontokan disertai rasa gatal yang berat, kemerahan, sisik, luka, nyeri, atau muncul area botak berbentuk tertentu, sebaiknya diperiksakan ke dokter kulit.
Salah satu kondisi yang dapat menyebabkan munculnya area botak secara tiba-tiba adalah alopecia areata, yaitu gangguan ketika sistem kekebalan tubuh menyerang folikel rambut.
10. Penggunaan Obat Tertentu
Beberapa jenis obat dapat menyebabkan rambut rontok sebagai efek samping. Jenis obat yang dapat berpengaruh antara lain obat tertentu untuk kanker, gangguan hormon, tekanan darah, atau kondisi kesehatan lainnya.
Jika kerontokan mulai terjadi setelah memulai obat baru, jangan menghentikan obat secara tiba-tiba. Konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui apakah obat tersebut mungkin berhubungan dengan kerontokan.
Berapa Banyak Rambut Rontok yang Masih Normal?
Rambut memang mengalami kerontokan setiap hari sebagai bagian dari siklus pertumbuhannya. American Academy of Dermatology Association menyebutkan bahwa kehilangan sekitar 50–100 helai rambut per hari dapat terjadi secara normal.
Jumlah tersebut dapat lebih sulit dihitung karena rambut yang rontok tidak selalu terlihat, terutama ketika keramas atau menyisir.
Yang lebih penting adalah memperhatikan perubahan dari kondisi normal. Jika rambut tiba-tiba jauh lebih banyak rontok, rambut semakin menipis, atau muncul bagian kepala yang botak, sebaiknya lakukan pemeriksaan.
Cara Membantu Mengurangi Rambut Rontok
Beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu menjaga kesehatan rambut, antara lain:
- Konsumsi makanan dengan protein dan nutrisi yang cukup.
- Hindari diet ekstrem atau penurunan berat badan terlalu cepat.
- Jangan mengikat rambut terlalu kencang.
- Kurangi penggunaan alat styling dengan suhu tinggi.
- Hindari proses kimia rambut yang terlalu sering.
- Gunakan sampo dan produk perawatan yang sesuai dengan kondisi kulit kepala.
- Kelola stres dan usahakan tidur cukup.
- Jangan mengonsumsi suplemen rambut secara berlebihan tanpa mengetahui apakah tubuh memang kekurangan nutrisi tertentu.
Kapan Rambut Rontok Harus Diperiksa?
Sebaiknya konsultasikan dengan dokter jika rambut rontok berlangsung terus-menerus, semakin banyak, atau menyebabkan penipisan yang terlihat jelas.
Pemeriksaan juga penting jika kerontokan:
- Muncul secara tiba-tiba.
- Menyebabkan bagian kepala menjadi botak.
- Disertai gatal, nyeri, kemerahan, atau luka pada kulit kepala.
- Terjadi bersama perubahan berat badan atau gangguan hormon.
- Disertai kelelahan, pucat, atau pusing.
- Muncul setelah mengonsumsi obat tertentu.
- Membuat rambut semakin tipis dari waktu ke waktu.
Dokter dapat memeriksa kulit kepala dan rambut serta, jika diperlukan, melakukan pemeriksaan darah untuk mencari kemungkinan penyebab seperti anemia, kekurangan nutrisi, atau gangguan tiroid.
Kesimpulan
Rambut rontok dapat disebabkan oleh banyak faktor, mulai dari stres, perubahan hormon, faktor keturunan, kekurangan zat besi dan nutrisi, gangguan tiroid, perawatan rambut berlebihan, hingga masalah kulit kepala.
Kerontokan dalam jumlah tertentu merupakan bagian normal dari siklus rambut. Namun, jika rambut rontok jauh lebih banyak dari biasanya, semakin menipis, atau muncul area botak, sebaiknya jangan diabaikan. Mengetahui penyebabnya sejak dini dapat membantu menentukan perawatan yang paling sesuai.